DARING FIKIH KELAS 6 SMT GENAP TP. 2020/2021 HUKUM JUAL BELI

 

FIKIH KELAS 6 SEMESTER GENAP

TAHUN AJARANH 2020/2021

JUAL BELI DALAM ISLAM

Jum’at, 29 Januari 2021

         

A.       Pengertian Jual Beli

Menurut bahasa jual beli berarti memiliki dan membeli. Juga bisa diartikan sebagai menukarkan sesuatu dengan sesuatu. Sedangkan menurut syara’ jual beli artinya tukar menukar harta dengan harta untuk memiliki dan memberikan kepemilikan.

Pengertian lain tentang jual beli didefinisikan oleh para ulama’ antara lain :



1.        Dalam kitab Bada’ius shona’il fii tartiibisy- syar’i karya Syaikh Alauddin al Kasani, Imam hanafi berpendapat bahwa jual beli adalah “pertukaran harta benda dengan harta benda berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan”

2.        Imam Nawawi dalam kitab majmu’nya mengatakan “Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan”

3.        Dalam kitab Roudlotun Nadi’ syarahnya kitab  Al-Muhtadi, menjelaskan bahwa jual beli adalah tukar menukar harta meskipun ada dalam tanggungan atau kemanfaatan yang mubah dengan sesuatu yang semisal dengan keduanya untuk memberikan haknya secara tetap.

4.        Menukar barang dengan barang atau barang dagangan atau dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lainnya atas dasar saling ridho. (Idris Ahmad, Fikih Asy-Syafi’iyah)

5.        Saling menukar harta, saling menerima dapat dikelola (tasharruf) dengan ijab dan qabul dengan cara yang sesuai dengan syara’ (taqiyyuddin. Kifayatul Akhyar)

6.        Penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan dan memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang diperbolehkan. (fiqih As-Sunnah)

Dari beberapa definisi diatas dapat dipahami bahwa jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang memiliki nilai secara ridho diantara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan secara syara’ dan disepakati.

Inti dari beberapa pengertian jual beli diatas antara lain :

·                Jual beli dilakukan oleh 2 orang yang saling tukar menukar (transaksi)

·             Tukar menukar tersebut atas suatu barang yang dihukumi seperti barang, yakni kemanfaatan dari ke dua belah pihak.

·       Sesuatu yang tidak berupa barang/harta atau yang dihukumi seperti barang tidak sah untuk diperjual belikan

·          Tukar menukar tersebut hukumnya tetap berlaku, yakni kedua belah pihak memiliki sesuatu yang diserahkan dengan adanya ketetapan jual beli dengan kepemilikan abadi.

  

B.       Dasar Hukum Jual Beli

Landasan atau dasar hukum jual beli disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’.

a.        Al-Qur’an

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لَايَقُوْمُوْنَ إِلَّا كَمَا يَقُوْمُوا الَّذِى يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الـْمَسِّ, ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوْا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰى, وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰى, فَمَنْ جَآئَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهٰى مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (البقرة : 275)  

Artinya ;

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan perkataan mereka (yang berpendapat bahwa) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai larangan Allah itu kepadanya lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dulu. Dan urusannya terserah Allah. Dan bagi orang yang kembali (mengambil riba) maka mereka adalah para penghuni neraka yang kekal didalamnya. (QS. AL-Baqarah : 275)

b.        Hadits

Rasulullah pernah bersabda yang artinya “Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum pisah dari tempat akad” hadist lain menerangkan bahwa “Sesungguhnya jual beli itu sah jika suka sama suka

c.         Ijma’ (kesepakatan para ulama’)

Para ulama telah sepakat bahwa jual beli itu diperbolehkan, dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.

Mengacu pada ayat Al0-Qur’an dan Hadits Nabi , hukum jual beli adalah mubah (boleh), namun pada situasi tertentu jual beli bisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, dan makruh.

1.        Jual beli yang disunnahkan, misalnya menjual barang kepada kerabat dekat, sahabat atau orang yang sangat membutuhkan barang tersebut, atau menjual barang yang hukum penggunaanya disunnahkan, seperti menjual minyak wangi.

2.        Jual beli yang di wajibkan. Misalnya jika para penjual beras, menimbun beras sehingga stok beras sedikit dan mengakibatkan harga beras naik melambung tinggi, maka pemerintah boleh memaksa para pedagang untuk menjual berasnya yang ditimbun tadi dengan harga sebelum dterjadinya pelonjakan harga. Contoh lain wajib menjual berasnya kepada orang yang terjepit/memiliki banyak hutang/tidak punya uang sama sekali (muflis)

3.        Jual beli yang di haramkan, yaitu jual beli yang tidak sesuai dengan ketentuan syareat juga mengandung unsur penipuan, misalnya menjual harta untuk berjudi dll.

4.        Jual beli yang dicegah (dilarang/makruh), menjual sesuatu yang tidak ada faedahnya, seperti menjual seekor semut. Untuk apa jualan 1 ekor semut?

C.       Syarat Rukun Jual Beli

D.       Jual Beli yang Diperbolehkan dan yang di Larang

E.       Barang-barang yang haram di jual

F.        Khiyar (memilih barang dagangan)

0 Response to "DARING FIKIH KELAS 6 SMT GENAP TP. 2020/2021 HUKUM JUAL BELI"

Posting Komentar