SURAT
AD-DUHA
Al
qur’an adalah kitab suci terakhir yang di turunkan oleh Allah ﷻ kepada
nabi Muhammad ﷺ, melalui perantara malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi
seluruh umat manusia. Allah ﷻ mencitakan mausia berbagai suku-suku
dan bangsa agar supaya mereka saling mengenal. Tugas utama bagi seorang rasul
(utusan Allah ﷻ) adalah menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya agar
manusia berada di jalur yang lurus dan tetap dalam kaedah kebenaran. Allah ﷻ, tidak akan mengazab suatu kaum (bangsa) yang melakukan dosa
(maksiat) kecuali Allah ﷻ telah mengutus seorang Rasul yang memberi peringatan dan
nasehat kepada mereka.
menurut
susunannya surat Ad-Duha menepati urutan ke-93 dari 114 surat dalam Al-Qur’an,
yang terdiri dari 11 ayat dan di turunkan di Kota makah sehingga di golongkan
sebagai surat Makiyyah. Nama Surat Ad-Duha diambil dari ayat pertama yaitu
lafal Ad-Duha, yang artinya “demi waktu Duha”.
Latar
belakang (asbabun nuzul) diturunkannya surat ad-Duha adalah ketika Nabi
Muhammad ﷺ, merasa sedih karena selama 15 hari tidak menerima wahyu
(fatrul wahyi) dan orang-orang kafir mengejeknya. Mereka mengatakan bahwa Allah
ﷻ telah nabi Muhammad ﷺ. Mendengar ucapan itu kemudian Rasulullah ﷺ sangat
sedih dansangat merindukan untuk mendapat wahyu lagi Salah satu alasan
diturunkannya surat Ad-Duha adalah untuk menghibir nabi Muhammad ﷺ, bahwa selama ini Allah ﷻ tidak
pernah meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ dan
umat Islam, sebagai pelipur lara bagi abi Muhammad ﷺ dan
umat Islam.
A.
Membaca
Surat Ad-Duha
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالضُّحٰى
﴿1﴾ وَالَّيْلِ إِذَا سَجٰى ﴿2﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى ﴿3﴾ وَلَلْآخِرَةِ
خَيرٌ لَكَ مِنَ اْلأُوْلٰى ﴿4﴾ وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى ﴿5﴾ أَلَمْ
يَجِدْكَ يَتِيْمَا فَئٰاوٰى ﴿6﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدٰى ﴿7﴾ وَوَجَدَ عَآئِلًا
فَأَغْنٰى ﴿8﴾ فَأَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْ ﴿9﴾ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا
تَنْهَرْ ﴿10﴾ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴿11﴾
Artinya :
Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi Maha
Penyayang
1.
Demi waktu Duha (ketika matahari naik sepenggalah)
2.
Dan demi malam apabila telah sunyi
3.
Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak (pula)
membencimu
4.
Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang
permulaan
5.
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan Karunia-Nya
kepadamu
6.
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungi(mu)
7.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk
8.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan
9.
Maka terhadap anak yatim janganlah engkau bersewenang-wenang
10.
Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau
menghardiknya
11.
Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (denga
bersyukur)
B.
Asbabun
Nuzul Surat Ad-Duha
Asbabun
Nuzul merupakan salah satu cabang ilmu Al-Qur’an yang membahas tetang peristiwa
turunnya wahyu dimana wahyu itu turun sesuai keadaan dan permasalahan yang
dialami oleh nabi Muhammad ﷺ dan umat Islam.
Adapun Asbabun nuzul turunnya surat Ad-Duha seperti
pada nukilan diatas, menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Jundub bin Abdullah sebagai
berikut :
عَنْ جُنْدُبٍ يَقُوْلُ اِشْتَكِى النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً أَوْ لَيْلَتَيْنِ فَأَتَتْ اِمْرَأَةً
فَقَاَلَتْ: يَا مُحَمَّدُ, مَا أَرٰى شَيْطَانَكَ إِلَّا قَدْ تَرَكَكَ, فَأَنْزَلَ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ "وَالضُّحَى وَالَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَعَكَ رَبُّكَ
وَمَا قَلَى" (رَوَاهُ أَحْمَدُ)
Artinya :
Dari Jundub ibni
Abdullah, dia berkata “” Nabi Muhammad ﷺ menderita
sakit sehingga dia tetap berbaring ditempat tidurnya dan tidak bangun untuk
shalat tahajjud semalam atau dua malam. Kemudian datang seorang wanita dan
berkata “Wahai Muhammad, aku melihat setanmu (pembisikmu) telah pergi
meninggalkanmu”. Lalu Allah menurunkan (surat Ad-Duha ayat 1-3) Demi waktu
Duha, dan demi malam yang telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad)
dan tidakpula membencimu”. (H.R Ahmad)
C.
Isi
Kandungan Surat Ad-Duha
1.
Ayat pertama
Pada
ayat awal ini Allah bersumpah dengan menggunakan waktu Duha adalah waktu
terbaik untuk dan menyegarkan untuk menjalankan aktifitas seperti bekerja, olahraga, atau untuk
belajar. Hal ini menunjukkan isyarat untuk menyegarkan kembali kondisi
Rasulullah ﷺ setelah beberapa hari berada dalam kesedihan karena tidak
adanya wahyu yang turun.
2.
Ayat kedua
Pada
ayat kedua Allah bersumpah menggunakan waktu malam. Waktu malah yang telah
sunyi merupakan waktu yang palng baik untuk beristirahat, menghilanghkan rasa
lelah, penat dan capek setelah seharian bekerja. Dan istirahat terbaik adalah
tidur di malam hari.
3.
Ayat ketiga
Pada
ayat ketiga ini menggambarkan bahwa Allah ﷻ, tidakpernah meninggalkan Rasulullah ﷺ, sebagai manusia yang paling dicintai Allah
untuk mengemban tugas suci dan Allah tidak pernah keliru dalam memilih
makhluk-Nya yang terbaik. Allah mengamanatkan aama Islam kepada Rasulullah
ﷺ, untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia,
dan Allah tidak akan mungkin kecewa kepada makhluk pilihan-Nya ini sehingga
tidak mungkin pula Allah meninggalkannya, bahkan sebaliknya, Allah ﷻ akan selalu
melimpahkan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Awal
surat Ad-Duha berisi kabar yang sangat menenteramkan dan menyejukkan hati Nabi
Muhammad ﷺ, yang sedang gelisah. Nabi Muhammad ﷺ, sangat gembira dengan turunnya wahyu (surat ad-duha ayat 1-3)
tersebut sampai-sampai beliau megucapkan kalimat takbir berkali-kali. Dari
sinilah para ulama’ berpendapat bahwa mengucapkan kalimat takbir saat membaca
surat Ad-Duha dan surat-surat berikutnya adalah sunah hukumnya.
4.
Ayat keempat
Bagian
dari ayat ini menjelaskan kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan juga kaum muslimin bahwa kehidupan akhirat yang kekal itu
lebih baik dan lebih diutamakan ketimang kehidupan dunia yang bersifat fana
(rusak). Nabi Muhammad ﷺ, pun memberikan tauladan untuk bersikap zuhud (meninggalkan
kemewahan dan kesenangan dunia). Sesuatu yang berkaitan dengan akirat beliau
lebih utamakan dari pada urusan dunia. Namun beliau juga tidak melalaikan
urusan dunia karena bagaimanapun juga dunia adalah sarana / jalan untuk menuju
akhirat.
Imam
Ahmad meriwayatkan dalam sebuah hadits dari sahabat Ibnu Mas’ud dikisahkan
bahwa “Rasulullah ﷺ, pernah tidur miring diatas sebuah tikar hingga membekas
dipunggung beliau. Ketika beliau bangun, aku (ibnu Mas’ud) mengusap punggung
beliau sambil berkata “Ya Rasulallah, sudilah kiranya engkau menjawab
mengizinkan kami untuk menghamparkan satu alas di tikar ini.” Rasulullah menjawab
“Apalah artinya dunia bagiku. Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia ini
hanyalah sperti seorang pengendara yang berteduh dibawah pohon, istirahat
disana, lalu meninggalkannya” ” (H.R Ahmad)
5.
Ayat kelima
Allah
ﷻ memberikan kabar gembira kepada Nabi
Muhammad ﷺ, bahwa kelak diakhirat beliau akan dikaruniai nikmat yang
banyak yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Beliau juga diberi izin
untuk memberikan syafaat (pertolongan) kepada orang lain terutama umatnya yang
selalu beliau perhatikan, dimana satu-satunya nabi yang bisa memberikan
syafaat/pertolongan hanyalah nabi Muhammad ﷺ, bahkan nabi-nabi yang lainpun meminta syafaat kepada beliau ﷺ, Anugerah yang akan diterima oleh nabi Muhammad ﷺ, berupa kemewahan surga yang penuh dengan kenikmatan yang mana
mata tidak pernah melihatnya, hati tidak pernah merasakannya, telinga tidak
pernah mendengarnya, bahkan keindahannya tidak pernah terintas dalam pikiran
manusia karena tidak otak mampu untuk menjangkaunya.
6.
Ayat keenam
Pada
ayat ini Allah ﷺ mengingatkan kembali bahwa betapa besarnya nikmat Allah ﷻ, yang telah dianugerahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, sejak beliau ﷺ masih dalam kandungan ibunya ia dalam
keadaan yatim. Enam tahun setelah kelahiran beliau ﷺ ibunya
pun meninggal dunia, lalu ia diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Dua tahun
merawat nabi Muhammad ﷺ kecil kakeknya meninggalkan belia
untuk selama-lamanya, dan beliau dititipkan kepada pamannya Abu Thalib hingga beliau dewasa dan berkeluarga.
Keadaan
Nabi Muhammad ﷺ, dimasa kecil sangatlah miskinyatim piyatu pula serta tidak ada
warisan harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Meskipun demikian
Allah ﷻ, tetap menjaga dan melindunginya samai dewasa dan dapat bekerja
sendiri. Menginjak usia 40 tahun, beliau diangkat menjadi nabi sealigus Rasul
terakhir sebagai penutup para nabi sebelumnya, dengan tugas membawa risalah
islamiyah kepada seluruh umat manusia. Inilah kasih sayang Allah kepada Nabi
Muhammad ﷺ, yang begitu besarnya, sehingga Allah mengangkat derajatnya
sebagi pemimpinyya para Nabi, utusan paling sempurna, dengan agama yang paling
sempurna pula.
7.
Ayat ketujuh
Ayat
ini juga mengingatkan kepada nabi Muhammad ﷺ, bahwa betapa besar karunia Allah yang diberikan kepada Nabi
Muhammad ﷺ. Sebab pada zama jahiliyah kala itu, tidak banyak orang yang
bisa membaca dan menulis teremasuk Nabi Muhammad ﷺ, sendiri sehingga beliau mendapat sebutan Al-Ummi (yang tidak dapat
membaca dan menulis). Beliau tidak bia membaca kitab-kitab suci yang diturunkan
Allah kepada nabi-nabi sebelumnya, lagi pula kitab-kitab itu diturunkan bukan
untuk bangsa Arab atau bukan utuk seluruh bagsa, melainkan pada satu bangsa
saja yaitu bangsa Israil saja. Artinya selain bani Israil (keturunannya Nabi
Ya’kub bin nabi Ishaq bin nabi Ibrahim), bangsa lain tidak berhak / tidak
memiliki kewajiban utuk mengikutinya. Kondisi semacam itu membuat Nabi Muhammad
ﷺ, belum mengenal apa itu iman seperti nabi-nabi yang diutus
sebelumnya.
Masa
kegelapan dari petunjuk Allah ﷻ, akhirnya berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dari
kota Makkah yang berdarah bangsa Arab (Nabi Isma’il bin Nabi Ibrahim) bukan
dari golongan bani Israil, yaitu ditandai dengan rturunnya Wahyu pertama kali
pada malam 17 bulan Ramadhan, yang kemudian hari untuk menandai peristiwa
munculnya agama Islam pertama kali di dunia ini disebut sebagai malam Lailatul
Qadar (yaitu satu malam yang penuh dengan kemuliaan yang menandingi kebaikan
ibadah selama seribu bulan)
8.
Ayat kedelapan
Nabi
Muhammad ﷺ yang lahir dari golongan masakini
(jamak dari kata miskinun yang di jer-kan) serta yatim itu menambah beban berat
dalam menapaki perjalanan hidup yang harus dilaluinya, orang yang merawat
beliau setelah sepeninggalan ibunya pun bukan orang kaya, walau kakeknya Abdul
Muthalib adalah seorang raja, pemegang kunci pintu Ka’bah, namun raja yang
tidak bermahkota dan tidak bpula bertahta duduk di singgasana. Namun pada
akhirnya karena sifat qonaah (menerima ketentuan Allah dengan sepenuh hati) dan
kesabarannya Allah ﷻ mengubah nasib nabi Muhammad ﷺ muda
menjadi seorang pedangang yang handal dan dapat dipercaya serta dapat membawa
keuntungan yang lebih bagi bos-nya sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Karena keberhasilan Nabi Muhammd ﷺ muda bos-nya itu (Sayyidah Khadijah) pun akhirnya menaruh hati
dan hendak menjadikannya sebagi seorang suami.
9.
Ayat
kesembilan
Pada
ayat ke sembilan ini Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad ﷺ, dan umat Islam supaya tidak berlaku sewenang-wenang terhadap
anak yatim. Mengingat kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, sendiri lahir dalam keadaan yatim. Dengan keadaan yang
demikian itu Allah memerintahkannya untuk berbuat baik dan berlemah lembut
kepada anak yatim, bahkan dalam satu riwayat yang intinya menyatakan bahwa
orang yang menanggung beban kebutuhan anak yatim maka kelak disurga ia akan duduk
berdampingan dengan Rasulullah ﷺ, dan tak akan
terpisahkan.
10.
Ayat kesepuluh
Sebegai
pelengkap ayat 9, ayat kesepuluh ini juga memerintahkan kepada kita untuk
bersikap baik kepada fakir misikn/orang yang kurang mampu dalam perekonomian. Mengingat
kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, sendiri saat masih kecil juga hidup serab kekurangan dan diasuh
oleh kakek dan pamaanya yang juga msikin harta. Juga memerintahka kepada kita
agar tidak berlaku kasar terhadap pengemis / peminta-minta. Selain kepada
mereka kita juga diharuskan untuk menjaga martabat / kehormatan mereka. Allah ﷻ, menitipkan harta mereka (fakir misikn) kepada kita (orang kaya
/ berada) oleh karena itu orang yang berharta wajib hukumnya menyisihkan
sebagian hartanya untuk mereka, karena itu hak bagi mereka. Perintah ini
berlaku bagi semua umat Islam seluruh dunia. Mengingat ini adalah perintah Allah
ﷻ, maka kita harus mengindahkannya.
11.
Ayat kesebelas
Dan
terhadap nikmat Allah, hendaklah engkau mensyukurinya, yaitu dengan cara
menyebut-nyebutnya agar kita menjadi orang yang sellau bersyukur terhadap
karuia-Nya yang dilimpahkan kepada kita. bukan untuk pamer / riya’, karunia
Allah ﷻ, untuk apapun bentuknya itu wajib disyukuri. Jika kalian mau
bersyukur maka Allah ﷻ, akan menambah karunia-Nya (kenikmatan) kepada kalian, namun jika
kalian mengingkari nikmat-Nya niscaya Azab Allah ﷻ, sangatlah pedih.
Demikian nukilan dari surat Ibrahim ayat 7 yang menjadi membawa gembira sekaligus kabar mengerikan bagi kita. dalam kehidupan ini banyak orang beranggapan bahwa harta yag dimilikinya adalah hasil jerih payah dan usahanya sendiri, ia tidak sadar, bahwa dibalik kesuksesannya itu terdapat karunia Allah sebagai bahan ujian bagi mereka.
Demikian nukilan dari surat Ibrahim ayat 7 yang menjadi membawa gembira sekaligus kabar mengerikan bagi kita. dalam kehidupan ini banyak orang beranggapan bahwa harta yag dimilikinya adalah hasil jerih payah dan usahanya sendiri, ia tidak sadar, bahwa dibalik kesuksesannya itu terdapat karunia Allah sebagai bahan ujian bagi mereka.
Demikian
11 kandungan Surat Ad-Duha sebagai bahan renungan untuk kita. sebagai Umat
islam sudah sepatutnya kita mengamalkan isinya sehingga menjadi manusia
sebaimana fitrah dilahirkanya manusia yakni sebagai kholifah fil ardhi.
D.
Keutamaan
Surat Ad-Duha

0 Response to "DARING QUR'AN HADITS KELAS 6 PART 001"
Posting Komentar